"Children
will watch anything, and when a broadcaster uses crime and violence and other shoddy
devices to monopolize a child’s attention, it’s worse than taking candy from a
baby. It is taking precious time from the process of growing up"
--Newton N Minow--
Beberapa orangtua pasti ikut merasa terenyuh mendengar meninggalnya seorang anak laki-laki bernama Valentino (5) yang tewas karena jatuh dari jendela apartemen, tempat kediamannya. Ironisnya, meninggalnya Valentino diduga karena orangtuanya menolak mengajak sang anak menonton film "The Amazing Spiderman 2: Rise of Electro" di bioskop.
Orangtua dan berbagai pihak menilai tindakannya sebagai ungkapan amarah karena keinginannya tidak dipenuhi, namun saya ingin mengajak para orangtua untuk melihat kasus ini dari sudut pandang berbeda. Apakah "The Amazing Spiderman 2: Rise of Electro" dan seri "Spiderman" atau "Superman", "Batman", (dan lainnya) yang bergantian menduduki Box Office dari tahun ke tahun cocok untuk ditonton anak-anak?
Sebelumnya, sebagai bahan pertimbangan, grup Cinema XXI, sebagai salah satu jaringan bioskop terbesar di Indonesia memberikan rating R (Remaja) pada "The Amazing Spiderman 2: Rise of Electro" dan film-film serupa ini. Begitu juga dengan grup Blitz Megaplex. Bahkan beberapa film seperti "X-Man: Days of Future Past" (yang sedang tayang saat ini) dan beberapa serinya memberi rating D (Dewasa).
Lembaga Sensor Film RI membagi kategori usia penonton menjadi SU (Semua Umur), R (Remaja: usia 13 tahun ke atas), dan D (Dewasa: 17 tahun ke atas), bahkan tahun ini LSF juga menambahkan kategori penonton film untuk usia 21 tahun ke atas.
Jadi bolehkah anak seusia Valentino (yang masih berusia 5 tahun) menonton film-film ini?
Sebelum bicara lebih jauh mengenai kategori usia, mari kita menelaah lebih dekat mengenai Spiderman, Superman, dan para manusia super idola kebanyakan anak-anak di dunia. Sebelum layar lebar membawa Peter Parker (Spiderman), Bruce Wyne (Batman), dan Clark Kent (Superman), televisi sudah lebih dulu memperkenalkan mereka. Sejak kelahirannya di era masing-masing ketiganya telah begitu digandrungi oleh anak-anak (khususnya laki-laki) di seluruh dunia.
Betapa tidak, bila para superhero nan gagah ini mampu terbang menembus atmosfer, bergelantungan di antara gedung-gedung pencakar langit, dan mengendarai mobil super keren. Melalui film kartun yang jamak disaksikan (dan dianggap aman oleh para orangtua), para superhero ini sudah begitu familiar di mata anak-anak. Mainan action figure-nya menjadi benda wajib yang dimiliki anak-anak laki-laki.
Lalu ketika mereka berpindah dari layar TV kartun ke layar lebar, anak-anak seketika histeris dan menganggap bahwa para tokoh idola mereka hidup di layar yang lebih besar. Cool! Keinginan untuk menonton menjadi lebih besar. Orangtua pun kerap menganggap bahwa karena ini diangkat dari karakter film kartun yang diangkat dari komik, maka kebanyakan orangtua beranggapan syah-syah saja mengizinkan anak menonton film ini di bioskop. Sehingga pola untuk menyadari dan melihat kategori usia tadi bisa jadi teralpakan.
Tak heran bila setiap kali film superhero mampir ke jaringan bioskop Indonesia, penonton cilik ikut bersesakan di antara para remaja dan orang dewasa. Lazimnya pula, penjaga pintu masuk yang lazim memotong tiket penonton pun tidak memperhatikan apakah personel yang masuk sesuai atau tidak dengan kategori usia yang terpampang di poster & layar penjualan tiket. Jadi yeah, Anda tak lagi merasa heran suasana studio yang menayangkan film superhero memiliki nuansa yang sama dengan studio yang menayangkan "Cars" atau "Plane," penuh dengan penonton cilik.
Kenapa sih saya berkeras bahwa ini masalah serius?
Pertama-tama, Spiderman, Superman, Batman, dan para superhero itu tidak memiliki hal lain yang ingin dipamerkan untuk menunjukkan kesuperheroan mereka selain melakukan aneka aksi berbahaya, menegangkan (baca: penuh adegan kekerasan). Adegan pukul, tendang, berkelahi... bahkan tanpa kekuatan super saja sudah mengkhawatirkan apalagi bila diimbuhi kekuatan super. Lebih lagi aneka adegan melompat dari gedung tinggi satu ke gedung tinggi lain. Terbang dari satu titik ke titik lain. Atau dengan tenaga super mengangkat benda berat seperti memindahkan sepucuk daun. Atau mengendarai mobil dengan kecepatan penuh, menuking cepat di sudut jalan, dan parkir paralel dengan sekali putaran.
Kedua, setiap super hero biasanya memiliki kekasih... Spiderman punya Mary Jane, Superman punya Lois Lane, bahkan Batman memiliki banyak teman wanita. Dan seperti umumnya film R, maka romantika menjadi salah satu barang dagangan film superhero. Paling tidak, adegan ciuman bibir atau kisah percintaan menjadi hal yang lumrah tampil.
Ketiga, kenapa LSF memberikan kategori R (Remaja) atau bahkan D (Dewasa) untuk film jenis ini? Karena film-film ini membutuhkan pemahaman dan kemawasan, hal yang umumnya belum berkembang sempurna pada anak-anak, khususnya di usia dini.
Pemahaman dasar bahwa melompat antara gedung-gedung tinggi tidak mungkin dilakukan, tanpa bantuan alat-alat canggih; bahwa terbang tanpa bantuan alat di angkasa tidak mungkin dilakukan, kecuali di kisah fiksi; menyetir dengan kecepatan penuh di tengah kota dan menukik pun bahkan tak bisa dilakukan Michael Schumacher di luar arena balap.
Kemawasan diri bahwa perkelahian bukanlah hal yang baik untuk dilakukan, kekerasan bukanlah solusi, dan siapa pun manusia harus berhubungan baik dengan manusia lainnya, serta berciuman bibir adalah hal yang sebaiknya tidak dilakukan di depan umum.
Maka, selanjutnya, bisakah Anda membayangkan bila anak-anak usia dini menonton film yang masuk dalam rentang R atau bahkan D?
Anak-anak hanya menganggap bahwa semua aksi para superhero itu Super cool! Melakukan aksi berbahaya itu hebat, punya pacar itu tandanya keren, dan aneka hal yang tak terbayangkan oleh Anda, termasuk memperaktekkannya.
Tengoklah kasus anak-anak yang mengalami luka serius dan meninggal karena meniru aksi para petarung WCW beberapa tahun lalu, simak juga kasus Revino (10) yang meninggal karena terjerat setelah meniru aksi Naruto. Semua adalah sedikit bukti bahwa anak-anak belum bisa memahami aksi "speaktakuler" para superhero dan menirunya mentah-mentah.
Ayah, Bunda... anak-anak kita bukan Spiderman, bukan Superman, juga Batman... atau Naruto. Putera/i kita tidak bisa melompat jauh hanya dengan berpegang pada seutas benang, terbang hanya dengan menyandang kain merah berlogo "S"... jadi pilihkan lah tontonan yang relatif aman dan mendidik.
Berikan pemahaman sederhana mengapa film favoritnya belum boleh ditonton anak-anak. Tunjukkan kategori usia yang biasanya ada di website layanan bioskop, berikan penjelasan siapa yang boleh menonton film itu sesuai kategori usia tersebut. Lalu berikan option film lain yang bisa ditontonnya, atau aktivitas lain yang lebih bermanfaat sebagai pengganti waktu menonton film.
Bila putera/i Anda sudah cukup besar, namun belum mencapai usia remaja dan bersikukuh menonton film itu... Anda harus memberikan usaha yang lebih keras, dampingi putra/i Anda menonton di bioskop. Berikan penjelasan hal-hal yang Anda pikir berpotensi ditiru oleh anak. Beritahu juga hal-hal positif dari para superhero yang pada umumnya berjuang melindungi kepentingan orang banyak, keberanian dan sikap positif lainnya... jangan cuma hal buruknya saja.
Saya menyebut ini sebagai kegiatan yang membutuhkan "usaha keras & keinginan kuat" karena bisa jadi Anda tidak suka menonton bioskop, bisa jadi Anda tidak suka dengan film aksi yang ngayal banget, sehingga ini adalah hal yang pasti sulit untuk Anda lakukan... tapi saya sarankan HARUS Anda lakukan, demi kepentingan putera/i Anda. Jangan pernah melepaskan mereka untuk menonton bersama teman-temannya, karena euphoria nya akan semakin besar. Semua hal semakin terlihat keren!
Ayah, Bunda... anak-anak kita bukan superhero... tapi kita berpotensi menciptakan pahlawan kita sendiri, dengan membantu mereka tumbuh menjadi anak-anak luar biasa yang pandai, memiliki pemahaman yang luas, dan mawas diri. Salah satu caranya, adalah dengan memberikan tontonan yang sesuai dengan usia mereka.
Semoga bermanfaat :)
Komentar
Posting Komentar