Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2013

"We Live in Tech World... (Doesn't mean we have to addicted to gadget, right?!)"

" If we continue to develop our technology without wisdom or prudence, our servant may prove to be our executioner ." (Omar N. Bradley) Sadarkah kita bahwa sebagian besar dari kita sudah mengalami Gadgetaholic itu, atau paling tidak mabuk gadget. Ciri-cirinya: 1. Tinggal bersama, namun hidup sendiri-sendiri. Berkumpul di ruang keluarga dengan TV menyala, tapi semua sibuk dengan gadget-nya masing-masing. 2. Makan malam bersama dan (mengaku) ngobrol, tapi update status terbaru kondisi anak-anak justru didapatkan oleh orangtua melalui status jejaring sosial. Eh, itu pun bila bersedia saling mem- follow   3. Keberadaan anak/orangtua lebih mudah dipantau melalui jejaring sosial ketimbang saling menjawab pertanyaan "hari ini rencananya mau ke mana?"   4. Guru lebih sering mengingatkan orangtua melalui SMS, tugas sekolah dan keperluannya, ketimbang anak memberitahu orangtuanya langsung.   5. Lebih menyedihkan bila orangtua pada akhirnya baru mengeta...

Sarah & Duck -- Quack! (TV Series)

Suatu hari... Nadine mulai bosan dengan acara-acara di Disney-Junior dan alih-alih bermain, dia meminta nonton " TV Baby "... dalam artian Nadine, TV Baby bukanlah Baby TV melainkan CBeebies, karena dulu kerap kali menonton "Waybullo" dan "In The Night Garden" di stasiun itu. And I always says "this is TV for baby... you're no longer a baby, Nadine," when Nadine already passed her 2nd year.   Sarah & Duck -- Quack! (jangan lupa, Duck selalu ber"quack!" setiap kali namanya disebut.) Seri ini tayang setiap hari, 2 episode setiap hari-- yang diulang beberapa kali sehari ( which is, you and your tods doesn't have to watch again and again.) Agak menarik ketika saya ikut jatuh hati melihat karakter, penokohan, dan desain duo cute ini. Theme song nya juga sangat sederhana, namun catchy. You will never get the idea of this series, except this is extremely  SIMPLE! Hal yang akan membuat penonton terpekur bengong dan tiba-tiba...

"Iklan TV dan Anak-anak: "Ma, Aku Mau itu!! Tuh kan, bagus kan!!""

Sambil menonton TV, seorang anak menarik rok ibunya, "Ma, liat deh!! Aku mau dong!!" Atau ketika menemani ibunya berbelanja di supermarket, anak-anak tiba-tiba berkata sambil menunjuka makanan ringan atau permen, "Bu, beli yang itu aja! Itu kan yang ada di TV" Rasanya ilustrasi macam itu sering dialami Ibu-Bunda-Mama alami. Tahukah Anda, pada anak-anak batita dan bayi yang belum memahami muatan TV, iklan adalah tayangan paling menarik yang pernah ia tonton. Kenapa? Karena tampilan iklan biasanya dibuat dengan warna mencolok, menarik, teknik pengambilan gambar yang ekstrim (biasanya close-up, paling jauh medium close-up), para model yang biasanya memiliki penampilan menarik, dan tentu saja... yang paling penting... jingle yang menarik dan mudah diingat (bahkan oleh anak-anak yang belum fasih berkata-kata). Bukan hanya, itu iklan produk anak-anak biasanya mendominasi acara yang memang diperuntukkan bagi anak, misal: Dora The Explorer, SpongeBob Squarepants ...

Handy Manny (TV Series)

MNC TV (Setiap hari 06.00 WIB) Disney Junior (Indovision, Ch. 43), (Telkomvision, Ch. 203), (Aora, Ch. 32) Rekomendasi usia: 4-8 tahun "Hola, Handy Manny Repair Shop... you break it... we fix it!" Let's meet Manny and his tools... yes! Manny Garcia is a handy man.  Apa yang membedakan Manny dengan tukang pada umumnya? 1. His tools can talk! (literally!) 2. He speaks bilingual (Bahasa Inggris dan Bahasa Spanyol), bahkan bila Anda menyaksikan versi dubbing MNC TV. Maka yang Anda temukan adalah Bahasa Indonesia dan Bahasa Spanyol. 3. He's a good friends. Hal ini agak melepaskan pandangan kita dari sosok para tukang yang selalu dianggap sebagai buruh, yang kasar dan tidak terlalu berpendidikan. Manny knows a lot... about everything, dan tidak congkak untuk membagi pengetahuannya, serta ringan tangan. That's why the whole city loves him.  4. He can sing :) and plays guitar... bahkan penyanyi yang cukup baik, hingga kerap diminta mendampingi musus ter...

"Digital Natives Vs Digital Immigrants Vs Digital Retards"

Apa sih Digital Native itu? Beberapa ilustrasi ini akan mempermudah Anda untuk memahaminya. Lucu ya... Putra/putri kita yang lahir di era digital/teknologi (tahun '90-an) secara alami memahami teknologi dalam diri mereka, mudah sekali terbiasa dengan segala alat berteknologi modern mulai TV hingga ponsel cerdas... adalah Digital Natives. Kita yang lahir di era CD, kaset, ponsel, TV tabung (tahun '70-'80an) adalah generasi Digital Immigrants, yang harus agak bekerja keras (berusaha membiasakan) dengan segala teknologi modern seperti komputer, smart TV, hingga smart phone. Orangtua kita yang lahir di era '40-'60an adalah Digital Retards dengan kata lain, seperti kata karakter di atas, satu-satunya teknologi yang dipahami hanyalah "pemanggang roti" ;p Cenderung enggan berurusan dengan komputer dan alat digital lainnya, dan hanya menggunakan handphone sebatas untuk bertelpon atau maksimal SMS. Ini ilustrasi lain yang membedakan Digit...

This BLOG just begun!

Izinkan saya memperkenalkan diri terlebih dahulu, sebelum saya mulai banyak berkisah tentang hal lain dan mulai membuat Anda bosan. Saya memulai ketertarikan saya pada anak dan media sejak saya mengerjakan skripsi tahun 2002 lalu (such a long time a go ;p). Saya mengajukan beragam ide judul terkait dengan beberapa hal yang menarik perhatian saya, khususnya (pada masa itu) tentang anime, pop-culture, comic, etc... Sampai akhirnya dosen saya masa itu meyakinkan bahwa saya "berhak" meneliti ketajaman teori ketergantungan pada media terkait seks. Memang tak terkait dengan anak, tapi perjalanan waktulah yang membuat mata saya terbuka akan realitas dunia remaja (yang masih masuk dalam kategori anak) dan media. Ketika lulus, saya bekerja di sebuah perusahaan yang membuat apa saja, terkait dengan anak! WHOW!! Dan saya belajar banyak dari sana tentang anak dan Emotional Intelligence. Di saat yang sama, saya ditarik bekerja untuk sebuah LSM bernama Yayasan Pengembangan Media Anak-K...